Social Icons

Social Icons

Jumat, 14 Desember 2012

Catatan Harian Seorang "Teroris"


"Ya Robbi…, masukkan hamba-Mu ini… ke dalam jannah abadi… bersanding dengan para bidadari….”

Catatan itu dibuat dengan tulisan tangan yang rapi. Setiap paragraf selalu rata pada pinggir kiri dan kanan. Hampir setiap tulisan diberi tanggal, dan kadang diberi judul, tapi tak ada keterangan dimana catatan itu dibuat. Disitu hanya ditulis “bumi Alloh” atau “bumi hijroh”.

Panjangnya beragam. Terkadang ia menulis sampai sepuluh halaman, tapi sering pulan hanya berupa kalimat-kalimat pendek yang tersusun dalam beberapa baris, mirip puisi. Ada yang dimulai dengan bacaan basmalah, ada pula yang dibuka dengan mengutip ayat al qur’an atau hadits yang cukup panjang. Catatan itu dibikin selama setahun lebih, dari Januari 2005 sampai Maret 2006, dituangkan dalam buku kecil dengan ukuran 10×20 sentimeter dan tebal 106 halaman.

Itulah buku harian gempur budi angkoro alias Jabir. Menurut polisi, dia seorang perakit bom dalam kelompok teroris yang dipimpin oleh Dr Azhari dan Noordin M Top. Buku ini ditemukan disebuah rumah di Binangun, Waringin Anom, Wonosobo, Jawa Tengah, yang digrebek pada 29 April lalu. Pemuda 27 tahun ini tertembak hingga syahid saat dikepung. Tempo memperoleh foto kopi buku itu dari seorang sumber di kepolisian.

Tak hanya berisi perenungan mengenai jalan hidup yang ditempuhnya, Jabir juga menulis kenangan pada masa kecil bersama keluarga di Madiun, Jawa Timur. Diapun menumpahkan segala kekagumannya kepada Dr Azhari yang mengajarinya membuat bom.

Dalam bukunya, Jabir menggabarkan sepak terjang kelompoknya sebagai Jihad. Demi jihad pula, mereka mesti melakukan hijroh, mengorbankan harta benda, meninggalkan anak istri, dan menanggalkan keglamouran dunia. Karena itu, “Sesungguhnya perjalanan jihad itu penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut kelaparan, dan hilang nyawanya…..,” tulisnya.

Dia rupaya sadar betul resiko yang bakal dihadapinya. Saat penyergapan pada pagi buta itu, polisi juga mengklaim menemukan bom yang siap diledakkan. Bom ini diduga hasil rakitan Jabir. Apalagi di situ ditemukan buku catatan yang lain milik pemuda ini yang berisi berbagai petunjuk teknis membikin bom berikut rincian bahannya dan skema pembuatan detonator. Diduga, Jabir mempelajarinya dari Dr Azhari.

Catatan membuat bom itu juga ditulis cukup rapi. Walau begitu terkadang ia membuat coretan-coretan kecil. Misalnya, dalam daftar bahan-bahan bom yang ditulisnya, dia membubuhkan gambar tengkorak mirip lambing yang biasa dicantumkan dalam botol bahan beracun.

Keisengan serupa sering pula dilakukan pada buku hariannya, tapi dalam bentuk celetukan. Dia selalu berusaha mengukuhkan keyakinannya ” bertemu bidadari melalui jihad”. Lihat saja catatannya pada 20 Januari 2005 yang diberi judul “Cuex aja…”.

Di kanan kiriku mereka berteriak,

Namun mataku tetap nanar

Mereka tak berhenti berceloteh….

Mencaci…. Mencela…. Menghina

Ya…. Robbi…. Masukkan hamba

Mu ini…. Ke dalam jannah

Abadi…. Bersanding dengan para bidadari….

Setelah itu Jabir memberikan komentar atas tulisannya sendiri. ceilee!! Puitis euy…
.

***

Sederet memory tentang Ummi
 

 Dalam buku harian, Jabir menulis pula kenangan mengenai Ibunya dengan judul “Perenungan untuk ummi tercinta.” Inilah ringkasannya.

Sengaja memory tentang aku dahulukan sebelum abi. Selain sebagai ikrom saya, juga karena Rosululloh memerintahkan untuk berbakti kepada umi sebelum bapak, dengan tiga kali ucapan.

Nanda masih ingat ketika berumur …nggak tahu yach berapa… pokonya belum sekolah. Waktu itu kehidupan keluarga lumayan harmonis dengan ternak ayam petelur dan ayam pedaging, plus lele dan lain-lain. Kita belum punya rumah dan masih tinggal dirumah mbah.

Ujian dari Alloh perlahan tapi pasti mulai menghampiri. Tiga kandang ayam yang baru selesai dibangun terbakar. Masih tampak jelas goretan duka pada wajah abi dan umi. Pag hari ketika umi masih menangis terisak-isak sembari memasak, nanda hanya bisa pasrah sambil membawa ayam-ayam yang terpanggang untuk nanda kasihkan ikan lele.

Saat kita sudah punya rumah, abi pernah marah gara-gara ulah nanda yang jarang buka puasa di rumah tetapi di tempat mbah. Tiba-tiba abi datang dan menampar muka nanda dan mas Ipul (Redi Saiful Mujahidin, kakanya) menyuruh makan di rumah. Sesampai di rumah, amarah abi belum mereda. Entah apa sebabnya abi tiba-tiba membanting hidangan yang siap makan hingga porak-poranda. Nanda hanya bisa menangis, apalagi saat itu sangat tertekan.

Ketika abi ke Malaysia untuk mencari tambahan umi harus banting tulang menghidupi keluarga. Waktu itu mas Huda dan Mas Ipul sudah mondok dan nanda pun menyusul.

Masih ingat dalam memori ketika umi mengantarkan nanda daftar ke PonPes Al Mukmin. Umi kecopetan ketika turun di wilayah Tirtomoyo, Solo. Umi hanya bisa bersedih dan menitikkan air mata. Nanda waktu itu tak tahu harus berbuat apa.

Tiga tahun lebih nanda belajar di Al Mukmin. Ketika berkunjung ke Pondok umi hanya memberi uang 10.000. waktu itu nanda bilang, “InsyaAlloh cukup.” Walaupun kenyataannya sangat jauh dari cukup, nanda tak tega mengatakannya. Pernah tunggakan SPP sampai tujuh bulan, akibatnya nanda harus berkamar diteras bersama santri-santri yang belum membayar uang kamar. Namun nanda ikhlas karena prinsip nanda, selama belum ada kiriman berarti umi belum punya uang.

Saat masa liburan selesai, umi sibuk kesana kemari mencari pinjaman uang, paling tidak bisa untuk ongkos kembali ke pondok. Nanda melihat mata sembap umi ketika memberikan uang yang hanya cukup untuk balik ke pondok dan sedikit jajan dengan mengucapkan, “Sing sabar sik yo le…” nanda hanya dapar menangis di perjalanan. Bukan karena sedikitnya uang, namun jerih payah umi mengusahakan mencukupi kebutuhan nanda di pondok.

Ujian demi ujian harus umi hadapi. Waktu Mas Ipul minta motor, umi tak punya uang, terpaksa kredit dengan cara memotong gaji umi yang tak seberapa dan tentunya ada bunga. Seperti buah simalakama memang. Kalau nggak dituruti mas Ipul sering ngamuk, pintu dipecah, sering mencaci maki. Mungkin karena beban mental umi tak kuat dan langsung kejang-kejang. Nanda hanya bisa memangku umi dan berdoa meneteskan air mata. Alhamdulillah mas Ipul sekarang sudah baik.

Di saat-saat akhir inilah, alhamdulillah, Mas Huda sudah bisa bisnis tempe. Sebelum ada karyawan maka abi dan umilah karyawannya. Tak jarang umi tidur larut malam karena masih harus membuat jajanan untuk dijual di sekolah esok hari dan bangun sebelum subuh. Ketika umi masih bersepeda ke sekolah, tak jarang umi berangkat agak kesiangan karena sibuk bikin kue yang harus dibawa dengan sepeda yang sudah tidak baik lagi.

Ketika Alloh memberi rezeki motor bebek merah tua tahun 70an, alhamdulillah beban umi agak ringan. Namun umi kadang agak minder dengan ucapan teman-teman sesame guru. “Sekarang zamannya motor hitam lho bu….”.

Sabar ya, umi…. Nanda ingin umi melihat bernafas lega, tersenyum dan tidak terlalu banyak pikiran dan beban. Nanda ingin, bila Alloh memberi rezeki pada nanda, bisa membelikan abi dan umi satu atau dua barang yang bisa umi gunakan. Nanda ingin membelikan umi pakaian karena selama ini umi hampir tidak punya baju baru.

Sebenarnya nanda ingin membahagiakan umi. Namun biarlah nanda bahagiakan umi kelak jika Alloh mengkaruniakan syahadah. Karena hanya itu yang bisa dan mudah-mudahan Alloh menerima jihad nanda.

Buat umi ku tersayang….

Salam manis dan sayang….

Tetap sabar dan istiqomah….

Dengan coretan-coretan ini nanda menghibur kangen nanda pada umi
.


Malam senin, 4 September 2005, 21:47 WIB, udah dulu yach… ngantuk nich….
 ***
 Menurut Sholeh Ibrohim, kepala sekolah Al Mukmin, Jabir hanya setahun sekolah di Ngruki. Setelah naik kelas dua dia pindah ke pondok Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali. Ini berbeda dengan catatan Jabir sendiri. di bukunya dia menuturkan pernah belajar selama tiga tahun di Ngruki dan setelah itu pindah ke Darusy Syahadah pada 1995.

Dia dikenang oleh gurunya sebagai santri yang keras memegang pendapat. Mustaqiem, Direktur Pondok Pesantren Darusy Syahadah, masih ingat ketika Jabir dalam sebuah diskusi bertahan dengan argumentasinya menolak demokrasi. Padahal pendapatnya diserang oleh santri dan ustadz muda peserta diskusi. Menurut Mustaqiem, prestasi akademik Jabir biasa-biasa aja. “Seingat saya nilai rata-ratanya tujuh,” katanya.

Setelah lulus dari pesantren Darusy Syahadah, Jabir tidak pulang kampung. Dia mengajar disana kira-kira tiga tahun, dan sesudah itu menghilang. Beberapa tahun berselang, “Tahu-tahu ada polisi yang datang dan menanyakan keberadaannya,” kata Mustaqiem. Itu terjadi setelah bom berkekuatan tinggi meledak di depan Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, pada 9 september 2004.

Nasir Abbas, bekas pentolan JI, menduga Jabir ikut menyiapkan bom kuningan. Menurut polisi Jabir juga ikut merakit bom yang meledak di Kafe Nyoman, Jimbaran, Bali, 1 Oktober tahun lalu. Dia pula yang diduga merekrut Salik Firdaus, pelaku Aksi bom bunuh diri di kafe itu. Salik adalah santri adik kelasnya di Pon Pes Darusy Syahadah.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Sample text

The more we learn, the more we realize we know nothing. There is a lesson to be learned out of every situation and it is up to us to learn from it :)

Sample Text

“Menulis merangsang pemikiran, jadi saat kamu tidak bisa memikirkan sesuatu untuk ditulis, tetaplah mencoba untuk menulis”. ^_^ [Barbara]